Senin, 16 Desember 2019
untuk si Mata Angin Telepon berdering. Kau mengangkat aku menjadi muridmu: meniupkan ruh puisi kepada kesunyian tubuh, lalu memberiku halaman yang sepi untuk tumbuh. Delapan penjuru taksu, kau bilang, harus kutulis segera. Jika tidak, maka minggu pagi akan serupa pekan-pekan yang telah lewat: sajak-sajak ambigu disusun bukan untuk dibaca, apalagi dihidupi makna. Yang kesembilan telah kusuratkan kepadamu melalui bayang-bayang di tubir meja kafetaria: sebatang kara yang langsai sejak pertama kita jumpa. Jika itulah porosnya, delapan yang kau minta adalah pusaran yang terus-menerus menjadi. Sejatinya tak akan pernah selesai kucoret meski sudah kuketahui bahwa kerinduan adalah inti sari perbuatan manusia. Aku menginduk padamu. Pada hal-hal sunyi yang kau bacakan kepada hening dan bisu. Dulu aku sesepi itu, lebih sepi bahkan. Lalu keniscayaan merenggut lisanku dan mulai bicara tentang mimpi dan masa depan. Tak lagi tentang hari ini dan kesendirian. Mata Angin, apakah bahagia jugamemiliki masa depan? Bukankah bahagia itu peristiwa saat ini? Bukan hasil kerja. Menemukan tatapanmu di balik topi dan tirus pipi tua, tulang tipis yang takkan pernah bisa dihangatkan oleh syal dan kain perca, menghidupkan kembali ingatanku tentang pertapa di lembah dan ngarai. Hidup hanya demi menulis mantra. Agar aksara tak sekadar menjadi kata, melainkan juga menjelma makna, mewujud daya, dan pada akhirnya menjadi upaya. Menulis puisi adalah mewujudkan doa. Menguntai penglihatan menjadi binar cahaya, mengolah pendengaran menjadi getar suara, menghimpun penciuman menjadi letup aroma, merajut perasa menjadi peka rasa, dan menghidupkan peraba menjadi kenal rupa. Tapi puisi membutuhkan semadi. Jika pena adalah raga dan tinta jadi jiwa, kau bagiku sanubari. Kepada kesetiaan aku berpegang, buhul yang mungkin kendur jika tak kau perintahkan kepadaku untuk bertapa. Baiklah, Mata Angin. Kutuliskan untukmu delapan penjuru taksu. Dari benih menjadi janin, menjadi orok, menjadi bocah, menjadi remaja, menjadi dewasa, menjadi tua, lalu menjadi jenazah. Takkan lagi yang telah menjadi puisi kubiarkan mati.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
πππ
BalasHapusMantapπ
BalasHapusππ
BalasHapusKerenπππ
BalasHapusππ
BalasHapusMumtaaz
BalasHapusπππ
BalasHapusππ
BalasHapus